Cinta Dibuang di Mana?
SATU
Aku melangkah keluar dari rumah, membawa sekantung sampah untuk dibuang—di tong sampah tetangga tentunya—karena tong sampah rumahku sudah penuh. Tetapi niatku urung. Tong sampah tetangga juga sudah penuh. Tidak hanya tong sampah tetangga sebelah, tetapi juga tong sampah tetangga seberang, bahkan hingga ke seluruh kompleks perumahan—hasilnya nihil. Semua tong sampah penuh! Lebih dari penuh kurasa. Kantung-kantung sampah yang menggelembung disusun bertumpuk-tumpuk, hingga robek-robek. Akibatnya, banyak cinta bergelinding ke jalanan, terlindas mobil, dimakan anjing, dan dijadikan mainan oleh anak-anak. Aku tidak mau membersihkan jalanan dari cinta yang berserakan, aku sendiri sedang kebingungan ke mana harus membuang kantung sampah yang sedang kubawa ini—yang isinya tulang ikan, kaleng minuman, nasi basi, dan—hanya secercah—cinta.
“Merepotkan!” Sebuah kata yang kontan terlintas di dalam benakku.
Aku kembali ke rumah dan hanya meletakkan kantung sampah yang kubawa di sebelah tong sampah rumahku. Kuharap, tukang sampah yang nanti siang datang tidak melalaikan sampah itu.
BRUUUM! Suara truk sampah sekonyong-konyong mendarat di kedua telingaku. Padahal, aku belum sempat menyantel pagar rumahku. Lebih baik aku keluar lagi, memberikan kantung sampah itu kepada si tukang sampah. Tangan si tukang sampah sudah belepotan—padahal dia sudah membungkusnya dengan sarung tangan. Tangannya belepotan cinta. Mau bagaimana lagi, seisi truk sampah itu yang menumpuk hanya cinta, hingga menutup sampah-sampah yang lain. Mataku melotot sesaat, tidak menyangka cinta bisa menggunung sebanyak itu. Dalam hati aku ingin bertanya pada si tukang sampah, kenapa bisa begitu banyak cinta, tetapi rasanya tidak perlu, karena hanya akan menjadi sebuah pertanyaan yang retorikal. Orang-orang memang pada dasarnya semakin suka membuang-buang cinta.
Memangnya, apa itu cinta?
Tidak bau. Tidak menjijikkan. Tidak bervirus. Mengapa orang-orang membuangnya sembarangan? Aku saja tidak berani buang-buang sembarangan, setidaknya demi mencegah Global Warming.
Cinta itu memabukkan. Seperti miras. Makanya harus dibuang. Kesimpulan yang cukup sembarangan sepertinya. Cinta dapat membuatmu buta. Buta dalam sekejap! Makanya harus dibuang. Mustahil dan tidak masuk akal! Cinta itu seperti pedang bermata dua. Ia dapat melukaimu! Makanya harus dibuang. Jelas-jelas tidak tajam. Cinta adalah racun bagi kebencian. Makanya harus dibuang. Itu dia! Mungkin karena itu cinta dibuang! Racun bagi kebencian. Racun bagi hati yang busuk. Istilah sainsnya, tidak biokompatibel.
Kebencian memang dianggap lebih trendy... atau—lebih tepatnya—lagi in di kalangan masyarakat manapun. Kadang-kadang, aku sendiri pun senang mengenakannya, begitu juga keluarga dan teman-temanku. Lagipula, tidak ada salahnya, toh!
Selepas menendang cinta yang bergelinding mendekat, aku masuk ke rumah. Ternyata, ibu sedang meyapu debu-debu cinta.
“Habis pegang cinta harus cuci tangan!” katanya.
DUA
Hari sudah malam, saya berada di dalam bus. Dari tadi hujan tidak kunjung berhenti. Menyuramkan hati, pikir saya saat itu. Padahal hari sudah malam dan air dari selokan sudah meluap. Saya jadi ingat Final Distance, lagu yang dilantunkan oleh Utada Hikaru. Walaupun tidak ada sangkut pautnya dengan keadaan saya sekarang, saya merasakan kesuraman yang sama ketika menerawang langit.
“I wanna be with you now... futari de distance chijimete...” Saya bersenandung pelan. Saya tahu tidak ada yang mendengar, saya juga tidak peduli. Suara mesin bus jauh lebih kencang.
Sudah saatnya turun. Halte becek—atau bisa dibilang banjir. Banyak sampah yang terbawa air hujan. Di sepanjang jalan, cinta berserakan, terseret-seret di atas aspal. Bahkan ada juga yang hanyut terbawa ke halte. Orang-orang menyepaknya, merasa jijik ketika cinta mendekat.
“Aduh, ini gara-gara orang suka buang-buang cinta sembarangan di sungai dekat sini. Meluap deh!” kata orang yang berdiri di sebelah saya.
“Iya.” Saya malas menjawab panjang lebar. Saya membiarkan saja cinta melintas di atas sepatu saya—yang sudah terlanjur kotor. Lagipula, saya sedang sibuk ber-SMS.
Saya minta dijemput, tetapi tidak ada yang bisa, terpaksa naik taksi. Untung masih ada taksi yang lewat.
“Mau ke mana, Mas?” tanya si supir taksi.
“Ke Cengkareng, Taman Surya III!”
Si supir mengangguk. Saya pun masuk.
Haaah... Saya menghela nafas. Setidaknya sudah agak lega, saya sudah bisa pulang ke rumah. Saya melihat si supir taksi, mukanya nampak letih sekali. Ia seperti orang yang hidup enggan mati pun segan.
“Hujan terus ya... udah sepanjang hari ini.” Saya mengawali percakapan. Rasanya mood untuk ngomong sudah kembali.
“Iya, hari ini juga sepi penumpang.” Suara si supir terdengar mendayu-dayu.
“Oh ya? Orang-orang pada naik mobil pribadi semua. Ah, tapi emang lagi sepi kok, Pak! Saya juga kerja di percetakan sepi banget. Rasanya seret.”
“Yah, yang hidup susah ya susah, yang seneng ya seneng.”
“Kalau Bapak termasuk yang mana nih?”
“Saya sih termasuk yang seneng aja deh. Sudah punya istri, satu anak. Yang penting mereka bisa makan, hidup tenang, ya saya juga hepi jadinya.”
Saya mengangguk. Kemudian tersenyum.
“Kalau Mas termasuk yang mana?” tanya balik si supir.
Saya terkejut. Tidak menyangka ditanyai seperti itu.
“Saya susah nggak, seneng juga nggak seneng-seneng amat lah. Biasa aja.”
“Hambar dong, Mas?”
“Nggak laaah! Lagian saya juga belum punya istri kayak Bapak.”
“Hepi kan nggak cuma gara-gara istri aja, Mas,” celetuk si supir.
Saya terkekeh. Rupanya dia cerdas juga.
Tiba-tiba mata saya tertuju ke satu tempat. Dashboard.
“Dashboardnya kok nyala-nyala, Pak? Ada apaan?” Bukan bermaksud ceriwis, tetapi memang ada cahaya aneh keluar dari celah dashboard.
Si supir langsung membukanya dan...
“Isinya cinta doang, Mas!”
Cinta bergelimpangan memenuhi karpet mobil. Bercahaya bagai lampion. Kadang meredup, kadang menyala terang sekali.
“Bapak ngumpulin beginian?” Saya mengambil salah satu dari cinta yang menggelinding ke kursi belakang.
“Yah, saya suka. Habis bentuknya bagus.”
“Dapet dari mana? Kok nggak dibuang?”
“Sayang, Mas! Anak sama istri saya juga suka sama itu. Dapetnya si dari jalanan. Tapi di kampung saya masih banyak yang jual.”
“Dijual? Cinta dijual?”
“Mahal banget loh, Mas! Tapi bisa ditawar.”
TIGA
Mari kita mulai gerakan anti-Global Warming. Aku pribadi lebih suka menyebutnya Gerakan Melestarikan Bumi. Tapi... tidak peduli apapun istilahnya, seharusnya kita tetap semangat merawat bumi ini. Seperti apa yang kulakukan hari ini. Berada di kerumunan orang yang—sebenarnya—tidak jelas apa maunya.
“Kami punya tiga macam kantung. Di sini ibu-ibu boleh mengambilnya secara gratis,” kata seseorang, aku sendiri tidak kenal siapa dia. Paling-paling hanya aktivis karbitan. “Tetapi, khusus untuk acara hari ini, ada tiga buah tong sampah. Tong sampah hijau, biru, dan merah. Ibu-ibu bisa baca sendiri di sana sudah tertera peraturannya. Tong sampah hijau untuk sampah organik, tong sampah biru untuk sampah nonorganik, dan tong sampah merah untuk barang-barang berbahaya—seperti baterai atau kaleng.”
Ibu-ibu berbondong-bondong melempari ketiga tong sampah itu dengan barang-barang yang ketika itu ada di tangan mereka. Padahal belum tentu semuanya sampah. Hanya asal buang. Buang tissue yang baru diremas, buang brosur yang entah diambil dari mana, buang botol minuman yang isinya baru habis setengah, dan masih banyak lagi.
Aku sendiri kebingungan...
“Ada yang bisa dibantu, Mbak?” si aktivis bertanya.
“Kalau cinta dibuang di mana ya?”
“Cinta???”
