Cinta Dibuang di Mana?

SATU

Aku melangkah keluar dari rumah, membawa sekantung sampah untuk dibuang—di tong sampah tetangga tentunya—karena tong sampah rumahku sudah penuh. Tetapi niatku urung. Tong sampah tetangga juga sudah penuh. Tidak hanya tong sampah tetangga sebelah, tetapi juga tong sampah tetangga seberang, bahkan hingga ke seluruh kompleks perumahan—hasilnya nihil. Semua tong sampah penuh! Lebih dari penuh kurasa. Kantung-kantung sampah yang menggelembung disusun bertumpuk-tumpuk, hingga robek-robek. Akibatnya, banyak cinta bergelinding ke jalanan, terlindas mobil, dimakan anjing, dan dijadikan mainan oleh anak-anak. Aku tidak mau membersihkan jalanan dari cinta yang berserakan, aku sendiri sedang kebingungan ke mana harus membuang kantung sampah yang sedang kubawa ini—yang isinya tulang ikan, kaleng minuman, nasi basi, dan—hanya secercah—cinta.

            “Merepotkan!” Sebuah kata yang kontan terlintas di dalam benakku.

            Aku kembali ke rumah dan hanya meletakkan kantung sampah yang kubawa di sebelah tong sampah rumahku. Kuharap, tukang sampah yang nanti siang datang tidak melalaikan sampah itu.

            BRUUUM! Suara truk sampah sekonyong-konyong mendarat di kedua telingaku. Padahal, aku belum sempat menyantel pagar rumahku. Lebih baik aku keluar lagi, memberikan kantung sampah itu kepada si tukang sampah. Tangan si tukang sampah sudah belepotan—padahal dia sudah membungkusnya dengan sarung tangan. Tangannya belepotan cinta. Mau bagaimana lagi, seisi truk sampah itu yang menumpuk hanya cinta, hingga menutup sampah-sampah yang lain. Mataku melotot sesaat, tidak menyangka cinta bisa menggunung sebanyak itu. Dalam hati aku ingin bertanya pada si tukang sampah, kenapa bisa begitu banyak cinta, tetapi rasanya tidak perlu, karena hanya akan menjadi sebuah pertanyaan yang retorikal. Orang-orang memang pada dasarnya semakin suka membuang-buang cinta.

            Memangnya, apa itu cinta?

            Tidak bau. Tidak menjijikkan. Tidak bervirus. Mengapa orang-orang membuangnya sembarangan? Aku saja tidak berani buang-buang sembarangan, setidaknya demi mencegah Global Warming.

            Cinta itu memabukkan. Seperti miras. Makanya harus dibuang. Kesimpulan yang cukup sembarangan sepertinya. Cinta dapat membuatmu buta. Buta dalam sekejap! Makanya harus dibuang. Mustahil dan tidak masuk akal! Cinta itu seperti pedang bermata dua. Ia dapat melukaimu! Makanya harus dibuang. Jelas-jelas tidak tajam. Cinta adalah racun bagi kebencian. Makanya harus dibuang. Itu dia! Mungkin karena itu cinta dibuang! Racun bagi kebencian. Racun bagi hati yang busuk. Istilah sainsnya, tidak biokompatibel.

            Kebencian memang dianggap lebih trendy... atau—lebih tepatnya—lagi in di kalangan masyarakat manapun. Kadang-kadang, aku sendiri pun senang mengenakannya, begitu juga keluarga dan teman-temanku. Lagipula, tidak ada salahnya, toh!

Selepas menendang cinta yang bergelinding mendekat, aku masuk ke rumah. Ternyata, ibu sedang meyapu debu-debu cinta.

            “Habis pegang cinta harus cuci tangan!” katanya.

DUA

Hari sudah malam, saya berada di dalam bus. Dari tadi hujan tidak kunjung berhenti. Menyuramkan hati, pikir saya saat itu. Padahal hari sudah malam dan air dari selokan sudah meluap. Saya jadi ingat Final Distance, lagu yang dilantunkan oleh Utada Hikaru. Walaupun tidak ada sangkut pautnya dengan keadaan saya sekarang, saya merasakan kesuraman yang sama ketika menerawang langit.

            I wanna be with you now... futari de distance chijimete...” Saya bersenandung pelan. Saya tahu tidak ada yang mendengar, saya juga tidak peduli. Suara mesin bus jauh lebih kencang.

            Sudah saatnya turun. Halte becek—atau bisa dibilang banjir. Banyak sampah yang terbawa air hujan. Di sepanjang jalan, cinta berserakan, terseret-seret di atas aspal. Bahkan ada juga yang hanyut terbawa ke halte. Orang-orang menyepaknya, merasa jijik ketika cinta mendekat.

            “Aduh, ini gara-gara orang suka buang-buang cinta sembarangan di sungai dekat sini. Meluap deh!” kata orang yang berdiri di sebelah saya.

            “Iya.” Saya malas menjawab panjang lebar. Saya membiarkan saja cinta melintas di atas sepatu saya—yang sudah terlanjur kotor. Lagipula, saya sedang sibuk ber-SMS.

            Saya minta dijemput, tetapi tidak ada yang bisa, terpaksa naik taksi. Untung masih ada taksi yang lewat.

            “Mau ke mana, Mas?” tanya si supir taksi.

            “Ke Cengkareng, Taman Surya III!”

            Si supir mengangguk. Saya pun masuk.

            Haaah... Saya menghela nafas. Setidaknya sudah agak lega, saya sudah bisa pulang ke rumah. Saya melihat si supir taksi, mukanya nampak letih sekali. Ia seperti orang yang hidup enggan mati pun segan.

            “Hujan terus ya... udah sepanjang hari ini.” Saya mengawali percakapan. Rasanya mood untuk ngomong sudah kembali.

            “Iya, hari ini juga sepi penumpang.” Suara si supir terdengar mendayu-dayu.

            “Oh ya? Orang-orang pada naik mobil pribadi semua. Ah, tapi emang lagi sepi kok, Pak! Saya juga kerja di percetakan sepi banget. Rasanya seret.”

            “Yah, yang hidup susah ya susah, yang seneng ya seneng.”

            “Kalau Bapak termasuk yang mana nih?”

            “Saya sih termasuk yang seneng aja deh. Sudah punya istri, satu anak. Yang penting mereka bisa makan, hidup tenang, ya saya juga hepi jadinya.”

            Saya mengangguk. Kemudian tersenyum.

            “Kalau Mas termasuk yang mana?” tanya balik si supir.

            Saya terkejut. Tidak menyangka ditanyai seperti itu.

            “Saya susah nggak, seneng juga nggak seneng-seneng amat lah. Biasa aja.”

            “Hambar dong, Mas?”

            “Nggak laaah! Lagian saya juga belum punya istri kayak Bapak.”

            Hepi kan nggak cuma gara-gara istri aja, Mas,” celetuk si supir.

            Saya terkekeh. Rupanya dia cerdas juga.

            Tiba-tiba mata saya tertuju ke satu tempat. Dashboard.

            “Dashboardnya kok nyala-nyala, Pak? Ada apaan?” Bukan bermaksud ceriwis, tetapi memang ada cahaya aneh keluar dari celah dashboard.

            Si supir langsung membukanya dan...

            “Isinya cinta doang, Mas!”

            Cinta bergelimpangan memenuhi karpet mobil. Bercahaya bagai lampion. Kadang meredup, kadang menyala terang sekali.

            “Bapak ngumpulin beginian?” Saya mengambil salah satu dari cinta yang menggelinding ke kursi belakang.

            “Yah, saya suka. Habis bentuknya bagus.”

            “Dapet dari mana? Kok nggak dibuang?”

            “Sayang, Mas! Anak sama istri saya juga suka sama itu. Dapetnya si dari jalanan. Tapi di kampung saya masih banyak yang jual.”

            “Dijual? Cinta dijual?”

            “Mahal banget loh, Mas! Tapi bisa ditawar.”

TIGA

Mari kita mulai gerakan anti-Global Warming. Aku pribadi lebih suka menyebutnya Gerakan Melestarikan Bumi. Tapi... tidak peduli apapun istilahnya, seharusnya kita tetap semangat merawat bumi ini. Seperti apa yang kulakukan hari ini. Berada di kerumunan orang yang—sebenarnya—tidak jelas apa maunya.

            “Kami punya tiga macam kantung. Di sini ibu-ibu boleh mengambilnya secara gratis,” kata seseorang, aku sendiri tidak kenal siapa dia. Paling-paling hanya aktivis karbitan. “Tetapi, khusus untuk acara hari ini, ada tiga buah tong sampah. Tong sampah hijau, biru, dan merah. Ibu-ibu bisa baca sendiri di sana sudah tertera peraturannya. Tong sampah hijau untuk sampah organik, tong sampah biru untuk sampah nonorganik, dan tong sampah merah untuk barang-barang berbahaya—seperti baterai atau kaleng.”

            Ibu-ibu berbondong-bondong melempari ketiga tong sampah itu dengan barang-barang yang ketika itu ada di tangan mereka. Padahal belum tentu semuanya sampah. Hanya asal buang. Buang tissue yang baru diremas, buang brosur yang entah diambil dari mana, buang botol minuman yang isinya baru habis setengah, dan masih banyak lagi.

            Aku sendiri kebingungan...

            “Ada yang bisa dibantu, Mbak?” si aktivis bertanya.

            “Kalau cinta dibuang di mana ya?”

            “Cinta???”

                            

Cyborg

Aku hidup di zaman serba edan. Zaman yang penuh fantasi seksual. Fantasi yang tidak lagi dibatasi rasionalitas libido. Aku hidup di sebuah negeri yang serba sinting. Sebuah Sodom dan Gomorrah yang tak terhancurkan. Sebuah negeri tanpa Tuhan. Sebuah negeri tanpa nabi. Sebuah negeri tanpa batas kemaluan.

            Yang kulihat di sepanjang jalan ibu kota hanyalah robot-robot pemuas nafsu berbentuk wanita supercantik ataupun pria supertampan—yang menggandeng pemiliknya bagaikan pasangan hidup. Padahal mereka hanya diperalat sebagai penyalur birahi.

            Dunia ini tidak lagi memerlukan cinta. Manusia yang mencintai manusia dipandang sebagai homoseksual. Sebuah aib yang—seakan-akan—tidak terbendung, karena nafsu seksual yang disorder.

            Robot-robot itu tak ubahnya manusia. Kehalusan kulit, binar mata, sulur-sulur rambut, hingga ukuran penis dan dalamnya vagina. Segalanya bisa dibuat sesempurna mungkin. Sesuai dengan kemauan kita. Sesuai dengan idealisme setiap orang mengenai kecantikan dan ketampanan.

            Mereka adalah android.

            Mereka bertingkah layaknya manusia. Apakah mereka memiliki perasaan? Apakah mereka memiliki naluri? Seharusnya tidak, karena program telah menetapkan mereka sebagai robot pemuas nafsu. Partner seks. Hanya sebatas itu. Sementara robot-robot lainnya bertugas sebagai tukang bersih-bersih, polisi, pembantu, tukang, atau justru ilmuwan yang sengaja dipekerjakan di pabrik untuk memproduksi para robot pemuas nafsu. Wujud mereka pun tidak bisa dibilang bagus. Tidak secantik para robot pembuat nafsu. Barangkali abstrak. Kabel-kabel menyulur keluar dari telinga, berpaut satu sama lain, seperti benang kusut. Organel otak sengaja disusun sekompleks mungkin. Supaya cara kerja mereka pun bisa sehebat para ilmuwan papan atas—atau bagi robot yang hanya menjadi satpam dan pembantu, memiliki kinerja otak yang jauh lebih simple.

            Sedangkan aku adalah seorang cyborg. Manusia setengah robot. Aku seperti tersesat di dunia ini. Sendirian. Tak ada kerabat.

            Aku adalah manusia yang dihidupkan kembali seperti frankenstein. Aku adalah senjata hidup yang memiliki naluri dan perasaan. Aku telah berreinkarnasi tanpa perlu jadi bayi lagi. Tapi, sajak-sajak perang ternyata sudah mencapai halaman terakhir. Sesudahnya, aku tidak bisa mati lagi. Aku mencoba pulang, tapi aku tidak bertemu dengan sanak saudaraku. Zaman sudah bergulir. Bergulir menjadi zaman robot. Zaman serba edan. Zaman serba sinting.

            Aku masuk ke dalam sebuah toko robot. Melihat robot-robot yang kiranya bisa menjadi partnerku. Bukan partner seks, karena penisku sudah lenyap dihantam rudal. Toko itu begitu ramai, banyak pria-pria hidung belang sedang menjajaki penis mereka. Mereka menjajakinya di depan semua orang. Mencobai vagina yang pas. Mereka sudah diperingati. Tidak boleh ada sperma yang berceceran. Orgasme berarti membeli.

            Aku berdiri di sebelah kanan salah satu pelanggan. Mukanya memerah keenakan. He’s going to buy it.

            Melihat wajah mesumnya membuatku geram. Kukeluarkan pisau dari kulit punggung tanganku, kemudian kupotong penis pria itu hingga darah mengucur membasahi selangkangannya. Dia menjerit parau. Suaranya meluncur seperti roket dan wajahnya memutih seperti dibedaki.

            Aku tertawa terbahak-bahak. Puas. Melihat ujung penis pria itu masih tertinggal di dalam vagina robot yang tadi dijajakinya.

            Heboh. Semua heboh. Heboh karena ketakutan. Petugas keamanan datang. Kuhabisi saja dia. Kukeluarkan meriam dari dalam perutku dan kutembakkan ke setiap sisi toko. Kurusak semua robot-robot lonte itu!

            HA HA HA HA HA!

            Teror. Teror. Teror. Seorang teroris sedang mengacau di kota!

            Berita tentangku langsung menyebar. Cepat sekali! Tak kuduga, ternyata kota ini cukup komunikatif. Sementara mereka paranoid, aku hanya tenang menanti di kursi taman, melihat beberapa orang sedang bercinta dengan robot-robot mereka. Berguling-guling di atas rumput, mendesah-desah tanpa ketukan, meraung-raung seperti anjing kampung. Kupotongi saja penis mereka satu per satu, kubawa, dan kemudian kusumbat di mulut para wanita yang sedang menikmati robot-robot pria. Biar kacau.

            Kacau semuanya!

            HA HA HA HA HA!

***

            Berita tentangku kini sudah menyebar ke seluruh negeri. Lewat TV. Lewat radio. Lewat internet. Lewat surat kabar. Aku dianggap sebagai TEROR. Ya, memang aku sedang menjadi teror. Sekalian kudatangkan neraka bagi mereka. Aku tidak bertingkah seperti pengecut. Ketika aku harus berhadapan dengan lawanku, maka aku akan benar-benar berhadapan. Kalau memang lawanku laki-laki, akan kubelah penisnya. Siapa lagi yang pernah melakukan hal semacam ini untuk mencapai kebenaran! CUMA AKU! CUMA AKU! Tai kucing dengan para teroris yang cuma bisa ngebom kemudian sembunyi!

            Namun, ketika malam tiba, aku hanya bisa diam. Meratapi nasibku. Meratapi kesendirian. Meratapi bahwa akulah satu-satunya cyborg. Siluman.

***

Aku ingin melihat wajah Tuhan. Sesekali aku teringat dengan gaung lonceng gereja yang berdentang. Tapi yang kudengar hanya desahan nafsu yang menantang.

            Aku ingin kembali ke tempatku dilahirkan. Bukan di kota ini. Aku ingin kembali menjadi bayi, mendecap puting susu ibu, dan merasai susunya yang nikmat. Aku ingin kembali menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa dan kemudian mati menjadi malaikat. Menjadi penghuni surga, tinggal bersama Tuhan dan sanak saudaraku. Aku bukanlah teror seperti sekarang ini. Aku bukanlah arsitek bagi neraka dunia.

            Aku rindu dengan gitar akustik yang dulu kupetik di pinggir jalan. Menukar melodi dengan uang. Kemudian terpaksa mengikuti wajib militer.

            Musisi. Tentara. Mayat. Cyborg. Siluman. Teror. Deretan profil yang kian berlanjut. Aku terus mencari epilog dari bukuku. Membalik halaman-halaman skenario dengan tulisan cakar ayam.

            Di manakah kisahku akan berakhir? Akhir yang kucari tidak semudah membalik halaman sebuah novel. Juga tidak senikmat membaca komik. Melainkan seperti mengiris penis pelan-pelan dan merasai lukanya menetes setiap hari.

            Pagi-pagi sekali, aku sudah terjaga. Ketika aku masih tergolek di atas timbunan pasir di taman. Tentara-tentara robot sedang mengepungku. Mengapa aku harus dikepung. Apa salahku? Aku tidak mau mereka bercanda terlalu lama.  Kuhabisi tentara-tentara robot itu dengan selibas bogem. Sekalipun badanku ditembus peluru, aku tidak akan mati. Tidak akan mati. Tidak akan mati. Tidak akan mati...

            Tetapi tertidur pulas.

            Mataku terpejam. Peluru yang menembus tubuhku menyebarkan racun. Racun yang membuatku lumpuh.

            Dasar manusia-manusia brengsek! Pengecut!

***

Aku terjaga. Tubuhku masih tidak dapat bergerak. Kulihat robot-robot pemuas nafsu bergelantungan di sekitarku. Hanya aku yang terbaring. Terbaring dengan sebatang penis di antara selangkanganku. Dari mana datangnya penisku itu?! Penisku tidak seburuk itu! Kembalikan selangkanganku yang rata!

            Suaraku tidak bisa keluar. Aku lumpuh total! Sarafku mati.

            Mesin pengangkut membawaku pergi. Aku tetap tidak bisa bergerak. Hingga tubuhku dibungkus pakaian. Kemeja. Celana dalam. Jeans. Aku diletakkan di dalam sebuah toko yang penuh dengan robot pemuas nafsu. Aku menatap ke sana ke mari. Pelanggan berseliweran, kebanyakan dari mereka adalah wanita, tetapi kadang-kadang ada juga yang pria. Mereka menjajaki penisku satu per satu, dan aku hanya diam menyaksikan. Wajah mereka yang memerah. Kadang tersipu malu. Kadang terlihat seperti mabuk kepayang. Aku benar-benar hanya diam. Kecuali jika mesin di dalam otakku menyuruhku untuk bergerak. Menggerakkan pinggulku maju mundur. Menggelinjang sedikit—atau banyak. Memerahkan pipiku yang telah dipoles. Mengeluarkan desahan-desahan nafsu yang dibuat-buat. Semua itu terjadi bukan karena kemauanku. Ini kemauan para manusia brengsek!

            Inikah akhir dari hidupku?

            Musisi. Tentara. Mayat. Cyborg. Siluman. Teror.

            Terakhir, aku telah berhasil menjadi seorang robot pemuas nafsu.

            HA HA HA HA HA!

Tinggal di Kamar Mandi

Aku suka tinggal di kamar mandi, ada kloset buat teman duduk-duduk, ada sabun batangan buat makanan sehari-hari, ada wastafel buat sumber air minum, ada sampo plus sabun cair buat tambahan softdrink

            Selain itu, di sini aku bisa bernyanyi sepuas-puasnya. Sekencang-kencangnya. Tanpa peduli pitch. Tanpa peduli tempo. Tanpa peduli groove. Hanya di kamar mandi, kamar mandi tak bermulut, kamar mandi tak bertelinga, jalan keluar hanya lubang dubur—lubang WC dan kloset. Itu pun tubuhku tidak muat. Lagipula, aku tidak mau berenang di antara kotoran-kotoran. Aku tidak mau keluar.

***

I SHOULD BE SO LUCKY LUCKY LUCKY LUCKY! I SHOULD BE SO LUCKY IN LOVE! Gabungan suara Hiroko dan Miyake menghambur di kamarku, menyanyikan salah satu lagu kenamaan Kyle Minogue, I SHOULD BE SO LUCKY. Tanganku belum lepas dari graphic tablet Han Wang. Masih mewarnai Pepper dari Imaginary Friends. Sekalipun tidak sehebat ilustrator papan atas macam Stanley Lau, biarlah, aku punya style sendiri. Anime style.

            Aku ditemani lukisan-lukisan setengah jadi yang saling sandar-menyandar tepat di sampingku. Ada beberapa lukisan adik-adikku, terlihat obrak-abrik warna yang agak ngasal, tetapi tetap dalam komposisi yang padu. Mereka kayak ngerti lukisan abstrak aja deh!

            Kulirik keluar, langit gelap gulita. Sudah hampir tengah malam.

            Kulirik ke dalam lemariku, Naruto dan Sasuke masih berdiang di sana. Hmm, koleksi komikku sudah semakin banyak. Syukurlah!

Rumahku besar, bersemayam puluhan lukisan di pelbagai sisi dinding, juga foto keluarga bergaya kesebelasan. Berbagai jenis patung terduduk di sudut-sudut ruangan, ditemani ratusan guci yang berderet di dalam—di samping—dan di atas lemari. PS2 aku punya—bahkan sebentar lagi PS3, sederetan komik-komik Jepang aku punya, mobil aku punya, handphone canggih aku punya, dan tidak tanggung-tanggung—aku punya koleksi bokep yang menggunung, he he he. Hampir tidak ada yang kurang di sini, kecuali cewek Jepang yang cantik. Nggak seperti tetanggaku yang kutu buku. Untung saja masih terpisah tanah kosong, antara D 48 dan D 33.

            Aku suka melukis. Aku juga suka menggambar. Bakat yang lumayan menolong. Walaupun aku tidak bisa menulis. Entah kenapa menulis itu sulit sekali! Juga tidak bisa bernyanyi—lebih tepatnya lagi tidak bisa bermusik. Tidak begitu pintar di pelajaran. Kesimpulannya, aku—yaah—agak bodoh. Ah, nggak juga lah! Buktinya, aku bisa duduk di kelas IPA.

             Adobe Photoshop CS. Terpaksa harus kututup malam ini. Mataku mulai mengantuk Juga mulai perih. Kulepas kaca mataku, kumundurkan kursiku, tak sengaja mata kakiku menyenggol beberapa lukisan buatanku. Lukisan permintaan salah seorang temanku. Lukisan tugas dari Pak Guru. Lukisan-lukisan akrilik. Untung saja lukisan-lukisan itu tidak terdorong jatuh.

            Kututup deviantART, selepas membalas komentar-komentar pendek dari sahabat dunia maya, sambil kututup juga Friendster. Terakhir, ku-klik Shut Down. Sampai jumpa untuk Roy Mustang dan Edward Elric, wallpaper komputerku.

            Besok pagi akan menjadi hari yang cerah. Hari-hari tanpa orangtua.

***

Bali agak berawan-menuju-mendung. Tubuhku rasanya malas bergerak ke sekolah hanya untuk pemantapan ujian nasional. Baru sedikit temanku memenuhi bangku-bangku kelas, padahal bel masuk tinggal beberapa menit lagi. Apa ada bel di hari Sabtu?

            Teman-temanku masih sibuk ngobrol, ada juga yang sibuk belajar, bahkan ada yang sibuk dengan buku karangan Djenar Maesa Ayu. Emang, apa pelajaran pertama?

            “Kimia.”

            Shit! Mendingan aku nggak masuk tadi! Sial!”

            “Nih masih banyak kertas. Buat ngegambar!”

            “Pinjem pensil dong! Sama pengapus!”

            Inilah kebiasaanku, kegemaranku, juga kegemaran banyak teman-temanku di sepanjang jam pelajaran kimia. Menggambar sembari menghilangkan rasa bosan, sekaligus membunuh waktu. Asalkan tidak membunuh Pak Kus yang sedang seru-serunya mengobarkan semangat sains. He he he.

            Sampai penghujung jam pelajaran, aku masih menggenggam pensil dan penghapus, menggambar wajah dengan mata memicing, hidung angka tujuh, tubuh kurus tinggi. Manga style. Sejenak menikmati Sari Roti, isi cokelat, memakan selai cokelatnya yang menggumpal, sambil bergaya seperti orang ejakulasi, di hadapan temanku yang sedang menikmati Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek.

            “Ooh, nikmat!”

            “Dasar monyet!”

***

            

Mengenakan bōgu layaknya kostum teater—

Shinai berayun, melesat menembus kekosongan dojo—

Teriakan “Nani?!” dari sensei—

Hentakan-hentakan lesu pada tiap langkah kata yang lupa kuhafal—

Ditambah lagi, tidak ada gadis cantik penghias pemandangan—

Sial!

Kendo membuatku penat sore ini. Waktu serasa berhenti. Keringat mengucur dua kali lipat. Benar-benar suntuk, seperti menikmati pelajaran matematika ala guru India. Gelumit logaritma tanpa ujung pangkal.

            Sepulangnya aku dari dojo, kukesampingkan semua kegiatan harianku. Tidak menggambar. Juga tidak menikmati bokep. Kurebahkan tubuhku sambil membayangkan pemandangan Xia Men, kota masa depanku. Lalu membayangkan tubuh gadis-gadis Jepang yang nakal—yang akan kukawini suatu hari nanti. He he he

            Soba ni itte soba ni itte soba ni itte—

            Tatta hitori no kimi kawarinante inai kara…

            Suara penuh warna mihimaru GT memenuhi kamarku. Mengiringi malam tanpa bulan dengan kakegae no nai uta. Wajah mesumku belum meredup, hingga malamku berakhir tanpa mimpi.

*

Pagi-pagi, air di kamar mandi membuatku menggigil.

            “Pueeeh, shit!” Tak sengaja, sabun cair masuk ke mulutku.

            Aku cepat-cepat mengakhiri mandi, mengeringkan badan, berbalut handuk hijau muda. Juga celana dalam pelindung kelamin yang senang mengacung. Pintu kamar mandi kubanting pelan, dan kakiku buru-buru kugesekkan pada keset.

            Dua adikku, sedang berdiam menonton televisi di ruang keluarga. Loh? Aneh. Mereka memakai topeng. Dari mana mereka mendapat topeng-topeng itu?

            “Kamu pake apaan sih?” tanyaku.

            “Nggak pake apa-apa.” Mereka menggeleng. Kompak.

            “Beh!” Kutarik paksa topeng yang menempel di kepala mereka. Tidak bisa dicabut?! Aku tarik lebih keras lagi. Tetap tidak bisa dicabut!

            “Apa-apaan sih Koko?! Jangan pegang-pegang muka orang sembarangan dong!” Adikku yang paling bungsu menampar tanganku.

            “Kamu itu pake topeng, Tolol! Lepasin topengnya!” nada bicaraku meninggi.

            “Koko buta ya?! Topeng mananya?”

            “Koko mesti ganti kaca mata tuh! Ha ha ha ha!”

            Nafasku tersengal, kuputuskan untuk berhenti. Membiarkan mereka tetap memakai topeng. Topeng yang kelihatan sangat tolol. Topeng tanpa ekspresi. Topeng dengan tiga buah lubang kecil. Lubang-lubang kecil pada hidung dan pada mata—berdiameter kira-kira 2 cm. Dihiasi lengkungan mulut setengah cemberut. Mengingatkanku pada topeng Noh.

            Mungkin ini hanya kenakalan mereka berdua. Lebih baik aku kongkow-kongkow dengan komputerku. Sesaat membuka deviantART, sesaat lagi membuka Friendster.

            Melihat teman-temanku yang...

            NAAANI?! Apa-apaan nih?! Mereka kok pake topeng juga?! Topengnya sama persis kayak yang dipake adek-adekku lagi!

            Shit, kok jadi gila semua sih?!” Kuhantam meja komputer, berikut keyboard-nya. Saat itu juga—bulu kudukku serempak berdiri. Topeng-topeng freak berjejer di friendlist-ku. Mulai dari si B yang ganteng, si N yang gila anime, si M yang sama-sama suka bokep, si I yang suka edit-edit foto, sampai si C yang tingkahnya masih kayak anak-anak di bawah umur—semuanya pake topeng! Sinting! Ada yang foto sekeluarga, ada yang foto sambil megang pedang Star Wars, ada yang foto bareng adeknya, ada yang masang gambar tokoh-tokoh Southpark—tokoh-tokoh Southpark yang juga bertopeng!

            Shit! Fuck! Shit!

                        Apa aku terlalu capek gara-gara kemaren kendo?

                                    Atau gara-gara fitness yang terlalu over?!

                                                Atau gara-gara dah lama nggak nyoli?! FUCK!

            Lebih baik aku duduk dan diam—kumatikan monitor komputerku, kemudian mulai membaca Naruto, mulai membaca Fullmetal Alchemist, mulai membaca Crayon Shinchan, dan mulai membaca seisi lemariku. Tetapi—aargh—tidak ada yang masuk ke kepala, gambar-gambar itu tiba-tiba menjadi abstrak! Sial! Ah, setidaknya tokoh-tokoh komik itu tidak ada yang memakai topeng, baik Sasuke, Misae, ataupun Edward—semuanya masih polos. Sepolos Yotsuba. Sepolos Dora the Explorer.

            “Brengsek!”

            TV. Televisi. Television—tiga kata yang bergaung di benakku. Aku menyalakan televisi, dari siang—dan niatnya sampai malam. Untunglah, kedua adikku sudah enyah dari sofa ruang keluarga. Dan kebetulan, kedua orangtuaku sedang cabut ke Jakarta. Tidak akan ada yang menggangguku hari ini! Tapi... lagi-lagi. Shiiiiit!

            “Bangsaaaat! Semuanya pake topeng!”

            Mulai dari pejabat, presenter, reporter, tokoh-tokoh agama... all of them! Semuanya pake topeng! Apa mataku rusak? Pikiranku kacau! Mendingan aku keluar rumah sebentar. Tidak sebentar! Sampai kepalaku normal kembali.

            YUI. Hikki. Orange-range. MONKEY MAJIK. mihimaru GT. Lagu-lagu dari musisi-musisi papan atas Jepang itu menggelora di dalam mobilku. Sembari aku melaju tanpa tahu arah. Hanya mengikuti naluri. Bukan naluri mesum!

            Yang kulihat di sepanjang jalan hanya manusia-manusia bertopeng, mulai dari satpam, tukang cukur, pedagang babi guling, petugas pompa bensin, dan—SEMUANYA—Tak bisa kusebutkan satu per satu!

            “Bapak pake topeng ya?”

            Nas kléng, jeneng asli cang nih!

            Buset deh, dia ngomel pake Bahasa Bali! Buru-buru kutekan gas, Picanto-ku melaju dari pompa bensin Jalan Gatot Subroto. Mulutku mengatup seratus persen. Tak tahu harus memaki apa. Juga tak tahu harus bilang apa pada siapa. Seakan mendadak bisu. Padahal maunya buta.

***

Kugenggam roti cokelat. Tak lagi dapat kurasai selai cokelat senikmat ejakulasi. Tanganku gemetar. Bokongku tertambat di bangku kelas, terpaku terdiam melihat manusia-manusia bertopeng berlalu lalang.

            “Kok diem aja dari tadi?”

            “Eh, Monyet. Tumben diem aja dari tadi! Lagi sakit yah?”

            “Ke kantin ga? Dah bel nih!”

            Bokep-nya dah aku balikin kemaren kan?”

            “Dah baca Yotsubato volume 8 belom?”

            Nggak. Nggak. Nggak. Nggak. Nggak. Semua jawaban sama, nggak. Lagipula—apa yang harus kujawab?! Aku ketakutan setengah mati di sini! Wajah-wajah bertopeng itu seakan mengeluarkan gelombang berbau busuk. Juga aura yang sangat BURUK. Membuat tubuhku terbujur kaku, tak berani melihat ke kiri maupun ke kanan. Aku serasa mendapat teror. Teror yang sangat membatin. Teror berikut tipu muslihat.

            Sekali kulihat wajah-wajah bertopeng itu, bulu kudukku langsung berdiri tegak.

            “Kenapa ? Sakit?”

            “NGGAK!” jawabku, setengah membentak.

            Campah, dah bagus ditanyain! Dasar, Cina!”

            Dari jendela, kulihat kepala sekolah sedang menggonti-ganti topengnya sembari berjalan menembus koridor. Tengkoraknya menganga bersama sekumpulan daging-daging di dalam rongga kepalanya. Ooh, FUCK! Sementara anak-anak perempuan sedang menikmati makan siangnya dengan lahap, dengan wajah tanpa kulit. Sungguh menggelikan, melihat guratan-guratan organ dalam tengkorak.

            Selepas menghabisi makan siang, mereka kembali mengenakan topeng. Kembali pada kepalsuan.

            Baaaangsaaaat! Aku mau pulang!

            Aku berlari ke lapangan seberang, sebelum bel pulang sekolah berdering. Kucari mobilku yang terparkir di sana. Kemudian kabur. Kabur ke tempat yang jauh! Jauh dari siapapun! Jauh dari topeng-topeng sial! Jauh dari kepalsuan!

***

Om—

            Om mani padme hum—

            Inikah jerat derita dalam lingkar samsara?

            Pandangku berkilas pada Avalokiteśvara bertangan seribu. Berharap memiliki lukisannya yang agung. Memandangnya tanpa pernah jemu.

***

Aku kembali terduduk di dalam kamar. Menikmati bokep Jepang. Mungkin dapat mengobatiku dari rasa gila ini.

            Sambil mendengar lenguhan-lenguhan nafsu. Rintihan-rintihan kenikmatan, diiringi seliter pejuh muncrat menyudahi masa-masa ereksi.

            “KIMOCHIII!!!”

            “ITAAAAAI!!!”

            But… ooh, FUCK!!! Lenguhan-lenguhan itu juga datang dari manusia-manusia bertopeng—ya, bintang-bintang bokep bertopeng. Chiasa Aonuma bertopeng—Maria Ozawa bertopeng—Hiyori Shiraishi bertopeng. AAAAAAARGH!!!

            Spontan, aku pingsan. Tanpa sempat mematikan DVD player.

***

(mataku berkunang-kunang—cahaya mengerjap—pikiranku melayang)

Tidak ada cermin yang bisa memamerkan wajah mereka yang jelek dan bernoda. Semuanya sudah menjadi bebal karena topeng. Sungguh memuakkan. Sambil meniru gelagat bicara salah seorang temanku yang agak kampung, kuteriakkan...

            ANJHING!

***

Tanganku bergerak limbung. Memain-mainkan graphic tablet. Entah bentuk apa yang kubuat, menyerupai wajah tetapi polos. AKU MENGGAMBAR TOPENG! SHIT!

            Aku berteriak-teriak kalut sendirian di kamar. Hanya ditemani lukisan-lukisan bisu. Semenit kemudian mulutku pun ikut bisu. Hatiku terlalu kusut untuk berkata-kata. Kulebarkan kedua mataku, menyaingi Keroro Gunsō. Sembari menyusun pikiran-pikiranku yang berserakan seperti satu set Gunpla yang belum jadi.

            Ge~ro gero gero.” Mulutku menggumam tak ubahnya seekor kodok.

Kurasai sekujur tubuhku sempoyongan ketika melangkah sendirian ke kamar mandi. Aku mau buang air besar! Walaupun fesesku belum bergelantung di penghujung anus. Sekalian kukunci diriku di sana! Sampai berjam-jam lamanya—sampai berhari-hari lamanya—sampai berminggu-minggu lamanya—sampai berbulan-bulan lamanya—dan sampai aku kehilangan pintu. Juga kehilangan ventilasi. Semuanya menghilang bagaikan terhempas ilusi.

            Meninggalkanku seorang diri… di kamar mandi.

            Tetapi, nyatanya, aku malah semakin suka tinggal di sini. Di dalam kamar mandi penuh surealisme. Ada kloset buat teman duduk-duduk, ada sabun batangan buat makanan sehari-hari, ada wastafel buat sumber air minum, ada sampo plus sabun cair buat tambahan softdrink. Semuanya tidak akan habis. Berapa kalipun kumakan—berapa kalipun kuminum. Terasa nikmat, lebih daripada roti isi cokelat yang kumakan setiap hari—daripada nasi goreng buatan koki bertopeng—daripada es krim buatan pabrik bertopeng—daripada bak pau buatan orang Cina bertopeng—daripada ayam goreng buatan kantin bertopeng—daripada aku harus keluar dari tempat yang nyaman ini. Tempat yang telah menjadi istanaku seorang.

            Sekalipun tidak ada handphone. Tidak ada music player. Tidak ada koneksi internet. Tapi ada rasa nyaman. Rasa terisolasi. Rasa sendiri. Sensasi.

Walaupun aku tidak onani, toh aku sudah lupa dengan bentuk cibai wanita-wanita cantik nan sexy di luar sana. Nafsuku lenyap seakan aku sudah melayang di Nirvana.

            Terlebih lagi, aku bisa bernyanyi di dalam sini. Sepuas-puasnya. Sekencang-kencangnya. Tanpa peduli pitch. Tanpa peduli tempo. Tanpa peduli groove. Hanya di kamar mandi, kamar mandi tak bermulut, kamar mandi tak bertelinga, jalan keluar hanya lubang dubur—lubang WC dan kloset. Itu pun tubuhku tidak muat. Lagipula, aku tidak mau berenang di antara kotoran-kotoran. Aku tidak mau keluar.

            Aku suka tinggal di sini.

            Tinggal di kamar mandi.

Denpasar, 5 Januari - 7 Februari 2008

Anjing Kampung

Guk! Guk! Guk!

Aku lahir bersama dua orang saudaraku. Lahir di semak-semak dekat jalan raya. Kami semua jantan berbulu hitam. Waktu masih kecil, yang kami kenal cuma mama. Menyusui dari mama. Berlindung pada mama. Menjadi buntut kedua, ketiga, dan keempat bagi mama. Sampai pada akhirnya, mama ditangkap oleh manusia. Mama menyuruh kami bersembunyi. Kami menurut saja, tetapi semenjak itu mama tidak pernah kembali.

            “Ia sudah disajikan di atas piring. Menjadi RW.”

            Banyak anjing yang sudah mengatakan hal yang sama. Seputar daging di atas piring. Seputar RW. Aku masih tidak dapat membayangkannya. Apakah itu berarti mama sudah mati? Mama menjadi makanan manusia?

            “Anak-anak bodoh, suatu hari nanti kalian akan tahu.”

Pertanyaan-pertanyaan mengenai mama sudah lama tidak menyinggahiku yang kini hidup sendirian di trotoar. Mungkin tidak akan pernah lagi, lagipula buat apa? Toh, aku sudah lupa dengan wajah mama. Yang penting saat ini adalah, aku bisa makan dan minum—mengorek tempat sampah di kompleks-kompleks perumahan atau memungut tulang-tulang ayam yang tidak sengaja terbuang ke lantai warung. Kadang berebut dengan anjing lain, berkelahi hingga salah satu dari kami babak belur. Terluka. Atau pada akhirnya ditendang oleh manusia.

            Hidup itu keras!

            Kakak pertamaku sudah mati, karena dipatuk ular berbisa di sawah. Aku sempat mengunjungi mayatnya. Banyak belatung. Belatung yang kucicipi sedikit. Hmm… renyah. Walaupun tercium jelas bau busuk yang menggerayang. Tidak apa-apa lah!

            Kakak keduaku sempat (berniat) datang menjenguk. Tetapi waktu itu—waktu dia menyeberang jalan—hanya tinggal beberapa langkah jaraknya dariku—sebuah truk meluncur, melindasnya dan CROOOT! Hancurlah separuh badannya. Isi perutnya terburai. Nafasnya masih kudengar sedikit, tetapi ia sudah tidak sanggup menggonggong. Aku hanya bisa meraung-raung mengitari tubuhnya. Beberapa manusia terdengar berceloteh ricuh, di antaranya terdengar suara perempuan menjerit. Merasa jijik dengan kakakku yang sebentar lagi akan menjadi mayat.

            “Dasar anjing, nggak punya otak!”

            “Najis banget sih tuh anjing! Iiih, jijik aku!”

            “Apa nggak ada yang bisa bersihin mayatnya dari jalanan?!”

            “Oooh, Fuck the dog off!

            “Udah tau ada truk, ngapain nyebrang? Ayam aja ngerti!”

            Yah, beginilah hidup menjadi anjing kampung. Serba rawan. Juga tidak ada yang peduli. Seakan semua tuli.

            Malangnya nasib anjing kampung.

            Guk! Guk! Guk!

***

Aku melintasi sebuah kompleks perumahan kecil. Para manusia—mungkin warga sekitar—kelihatan sedang asyik bermain bola, sementara aku mengorek sampah dari satu rumah ke rumah lainnya.

            “GRRR!” seekor rottweiler tiba-tiba menghantam perutku dengan kepalanya yang bulat. “Siapa suruh kamu makan di sini?! Anjing jelek!”

            Huh, lagaknya seperti anjing terhebat saja! Dasar anjing ras, hidup enak, sok jago lagi! Paling-paling badan gede cuma gara-gara dogfud!

            “Grrr! Terserah aku mau makan di mana! Nantang berantem kamu ya?”

            “Grrr, jelas-jelas kamu yang nantang! Anjing Kampung!”

            Nafasku dan nafasnya menderu seperti knalpot motor butut.

            “MATI LU ANJING BEGO!”

            Kucabik matanya, kucakar hidungnya, dan kugigit punggungnya. Ia membalas, membantingku hingga aku tersungkur di tanah. Perutku berdarah. Ah, luka biasa! Aku bangkit lagi. Kugigit lagi punggungnya, perutnya, wajahnya, hingga ia berdarah di mana-mana! Aku ini sudah pengalaman berkelahi berpuluh-puluh kali. Siberian Husky saja terkaing-kaing meninggalkanku! Apalagi Rottweiler jelek macam dia!

            Ada seekor Golden Retriever tampan yang hanya berdiri memandang pertarungan kami sambil menggonggong memanggil seseorang. Entah siapa yang dipanggilnya, mungkin tuannya.

            “SINYOOO! Ives bherantem sama anjhing kampung! SINYOOO! CEPETAN KE SINI!” Seorang gadis cilik memanggil-manggil dari balik pagar rumah. Suaranya parau bercampur logat Jawa yang kental. Kakinya yang gemuk gemetaran sambil berteriak-teriak tidak jelas. “SINYOOOOO!”

            “Iya, iya, bhentar!” Seorang bapak-bapak—ah, bukan—seorang remaja berbadan bongsor keluar melerai kami berdua. Ia menimpukku dengan sendal dan batu.

            Cih, pengganggu!

            Baiklah-baiklah, aku akan pergi. Tapi ingat, sekali lagi kita bertemu, anjingmu akan mati! Pasti mati!

            “Ives, Alvin, masuk sana!” Orang itu menyuruh kedua anjingnya masuk.

            Halah, ternyata kedua anjing itu penurut sekali. Dasar bego! Kugonggongi mereka, kemudian aku lari. Guk! Guk! Guk!

            “Ives ngghak apa-apa kan, Nyo?”

            “Matanya luka.”

***

Trotoar. Trotoar. Aku menapak sendirian lagi. Tidak ada pertarungan. Tidak ada makanan. Tidak ada anjing betina untuk dikawini. Aku hanya bisa menatap kosong pada teman-temanku yang sedang kawin di tengah jalan—atau di tengah pantai.

            Aku duduk meliuk di atas pasir putih. Kuamati tingkah laku tiap manusia di sana. Kuamati anak-anak pantai berkulit legam, berjalan telanjang dada sambil menjinjing papan surf, mungkin di antaranya ada yang menjadi gigolo. Kulihat perempuan-perempuan manis berkulit cokelat, berperut cekung berdada busung, mungkin di antara mereka ada yang menjadi wanita peliharaan. Wah, kalau kupikir-pikir, manusia dan anjing tidak jauh beda. Sama-sama suka dipelihara. Yang penting bisa makan dan minum. Guk! Guk! Guk!

            “Halo, siapa kamu? Kamu anjing juga ya?”

            “Heh? Siapa kamu?”

            “Loh, kok balik tanya.”

            Aku membuka mataku perlahan. Eergh, rasa kantuk di siang hari memang sulit diobati. Biasanya kurelakan saja mataku mengatup, kemudian bangun dengan perut lapar di malam hari. Tapi kali ini, sesuatu menambat mataku supaya tetap terbuka.

            “Main yuk!” ajaknya.

            “Ma… main? De… denganku?”

            Mataku terpana, melihat seekor anjing betina yang begitu cantik. Shih Tzu dengan bulu cokelat panjang. Matanya pun cokelat berbinar-binar. Aduhai, ia seperti seorang putri. Tubuhnya mungil namun berisi. Ia berlari dengan langkah-langkah kecil yang imut. Terkadang ketika berlari, ia hampir-hampir terpeleset. Terkadang juga ia sengaja menjatuhkan diri, merasai pasir yang empuk, seperti bantal di rumah, katanya.

            “Hei, memangnya majikan kamu ke mana?”

            “Nggak tahu, majikanku hilang.”

            “Lantas, kamu kok tenang-tenang aja?”

            “Ya, karena aku suka pantai. Lebih baik aku nggak pulang ke rumah.”

            “Jangan begitu! Hidup di rumah itu jauh lebih enak. Kalau di sini bisa-bisa seharian kamu enggak makan. Malah ngorek sampah.”

            “Ngorek sampah? Waktu kecil aku juga sering ngorek sampah di dapur, tapi selalu dimarahin. Kalau kamu?”

            “Hmm, setiap hari. Setiap hari aku makan sampah.”

            “Wah, nggak sehat loh!”

Kami berbincang-bincang mengenai banyak hal, sambil melintasi tubuh-tubuh berkulit pucat yang berjemur di atas pasir putih. Ia bercerita mengenai dirinya yang dirawat bagai seorang putri raja. Banyak hal asing yang disebutkannya—seperti spa, manikur, pedikur, dan masih banyak lagi. Aku tidak dapat mengingat semuanya. Hanya saja yang kutahu, ia melakukan semua itu demi kecantikan. Kecantikan yang memang tampak dari dirinya—dari dalam maupun luar.

            “Sebenarnya itu juga bukan mauku.”

            “Hmm, itu keinginan majikanmu?”

            “Iya.”

            Tak pernah kutemui anjing ras secantik dan seramah dia. Apalagi anjing kampung! Mana ada yang mau menemaniku ngobrol seperti sekarang ini. Ada mungkin, tapi hanya sebatas obrolan mengenai menstruasinya anjing milik si A atau si B. Huh!

Guk! Guk! Guk!

            Kami berdua terus berlari, berlari melampaui kecepatan awan-awan mungil di langit dan tiba-tiba saja… GUBRAAAK! Papan surf menghantam kepalaku. Aaah, Anjing, sakit sekali! Guk! Guk! Guk!

            “Loh, ke mana dia?”

            Aku menoleh ke segala arah. Yang kulihat hanya pantai yang kian menghitam dan pedagang-pedagang menggulung tikar. Sementara suara perutku sudah menyaingi kokok ayam pagi hari. Lapar! Lapar! Lapar!

            Aku berjalan sendirian. Terhuyung di pinggir pantai. Lelah. Lemas. Lapar. Kali ini tanpa seekor Shih Tzu yang menemani. Memang di dunia ini mustahil untuk menemukan anjing yang baik sekaligus cantik.

            Terbukti, hanya ada di dalam mimpi.

Keempat kakiku menapaki relung-relung pasir putih berselimut hitam malam. Tak sekalipun mulutku membuka. Hanya diam melangkahi para manusia yang sedang bercinta meniru gaya anjing. Siapa yang sebenarnya binatang di sini?

            Guk! Guk! Guk!

            Aah! Aah! Aah!

Denpasar, 26 Januari 2008

Enigma

Aku bangkit dari kasurku, menempis selimut yang membalut, menapak di atas karpet merah marun. Sembari berjalan terkantuk menuju sebuah kursi kecil, mengambil jas untuk menyekap kemeja kusut yang sedari malam kupakai tidur. Aku menyisir rambutku dengan jari, berusaha menatanya serapi mungkin, tanpa ada cermin yang bisa kulihat. Kemudian kubuka pintu kamarku dan…

            Tibalah aku di sebuah mall. Mall yang sangat megah. Berdinding merah muda kecokelatan. Ada banyak cermin, aku bisa berkaca sebentar, sambil menghapus kotoran-kotoran yang menyelinap di sela-sela kedua mataku. Mall belum begitu ramai, mungkin masih terlalu pagi bagi seorang pebelanja untuk merogoh dompetnya. Aku berjalan ke arah lift, menunggu mesin itu bergerak turun perlahan-lahan—kelihatannya seperti diseret-seret. Kumasuki lift itu dan…

            Tibalah aku di sebuah kantor. Kantor yang luas, tetapi dipadati oleh sederetan karyawan. Dulu aku sempat bekerja di tempat ini, sempat menghadapi bos yang cerewet, yang mulutnya tajam bagai silet, sekalipun anak-anak buahnya sudah bekerja dengan ulet. Ya, seperti halnya sekarang. Aku melihat sekumpulan wajah menderita, ingin bercerita, tapi lebih memilih berdusta. Jadi lebih baik terus bekerja demi keluarga.

            “Loh, Bapak kok ada di sini?” seseorang menyapaku, senyuman merekah di bibirnya, menciptakan sepasang lesung di pipinya.

            “Iya, biasalah, saya mau ketemu si bos,” jawabku seadanya. Selain terlalu sulit untuk dijelaskan, aku juga tidak ingin meperpanjang percakapan. “Udah dulu ya. Saya buru-buru soalnya!”